















Ada ungkapan yang menyatakan bahwa baik buruknya perilaku seseorang sangat bergantung pada hatinya. Jika hati baik maka perilakunya akan baik. Sebaliknya bila hatinya buruk maka perilakunya akan buruk.
Seperti yang kita ketahui untuk mendapatkan hati yang selalu ada dalam kebaikan tidaklah mudah. Pada dasarnya hati manusia mudah berbolak balik. Hati juga merupakan bagian yang paling gampang terpengaruh dan sulit diobati. Diperlukan usaha keras untuk memelihara dan menjaga hati.
Karena bagi siapa saja yang ingin menata amalnya harus diawali dengan menata hatinya terlebih dahulu.
Setidaknya ada empat prinsip yang bisa dilakukan untuk menjaga hati agar tetap baik yaitu dengan selalu mengingat Allah SWT, perbanyak berpuasa, sering membaca Al Quran dan terakhir senantiasa mengingat kematian.
Demikian dikatakan Ustadz Zulfi Akmal Lc., M.A. dalam tausiyahnya pada acara The Last Grand Iftar yang diadakan oleh Indonesian Islamic Society of Brisbane (IISB) di Universitas Queensland , Sabtu (22/3/2025).
“Sangat penting untuk menjaga hati agar tetap lembut, mudah tersentuh untuk berbuat kebaikan dan mencegah hati berkarat karena ditimpa dosa-dosa dengan cara berlapar-lapar dan perbanyak membaca Al Quran,” kata Ustadz Zulfi Akmal Lc., M.A.
Selanjutnya terkait dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, ia menambahkan momentum akhir Ramadan ini sangat tepat digunakan untuk mengoreksi hati dan ketaqwaan kita. “Apakah ibadah satu bulan penuh ini sudah lebih mendekatkan kita kepada Allah SWT atau biasa saja?”
Dan yang tidak kalah penting untuk menguatkan niat kita mendidik hati tetap bersih adalah dengan selalu mengingat kematian. “Mengingat kematian bisa menjadi panduan untuk hidup lebih berhati-hati. Ingat kita akan disidang, dipreteli dari hal kecil sampai hal besar, dari akil baligh sampai akhir hayat akan ditampilkan,” ungkap ustadz lulusan Universitas Al Azhar Cairo tersebut.
Ustadz Zulfi Akmal menegaskan setiap apa yang kita lakukan merupakan amanah yang akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah. “Sebagai contoh kita mengambil pasir di jalan saja itu akan ditanyakan, apakah hal itu termasuk sunnah, mubah atau haram? Jadi tidak ada yang sepele di dunia ini. Semua dipertanggung jawabkan,” tambahnya.
Ia mengakui godaan dunia akan selalu ada sehingga manusia perlu diingatkan untuk tetap fokus pada tujuan hidup utama di dunia ini. “Apa tujuan kita hidup di dunia ini? Pada akhirnya kita semua akan kembali dan kita semua ingin kembali dengan husnul khatimah. Perbanyak amal saleh akan membuka hati kita bening lagi, hati yang bening, jiwa yang tenang insha Allah akan kembali dengan husnul khotimah,” ungkapnya mengakhiri tausiyah.
Usai tausiyah, acara dilanjutkan dengan doa, salat berjamaah dan buka bersama.
Suasana penuh kehangatan sangat terasa dalam acara buka bersama yang diselenggarakan oleh IISB di akhir Ramadan tahun ini pasalnya beberapa kegiatan buka bersama sebelumnya harus dibatalkan karena badai siklon tropis alfred yang melanda Queensland.
Acara buka bersama ini telah berlangsung hampir 10 tahun, dan terbukti mampu menjadi acara yang selalu disambut dengan semangat kebersamaan karena berhasil menjadi wadah masyarakat muslim Indonesia di Brisbane Australia untuk memperkuat nilai-nilai keislaman dan mempererat tali silaturahmi. (Shinta Ardhan/Media
